Terletak Di Pemukiman, Warga Perum GBS Desa Muara Lawai ‘Tolak’ Rumah Isolasi Covid-19

  • Whatsapp

INDOSIBER.ID – Rumah isolasi Covid – 19 di Desa Muara Lawai Kecamatan Muara Enim Kabupaten Muara Enim menuai kontraversi, pasalnya rumah yang disiapkan oleh team gugus covid Desa Muara Lawai terkesan belum siap ditempati apabila ada pasien yang terpapar virus corona, seluruh ruangan masih terlihat berdebu sangat tebal dan diteras banyak sekali kotoran hewan seperti kotoran kambing.

Dian warga perumahan GBS menyampaikan kepada media “bahwa kami warga perumahan disini tidak setuju dengan adanya rumah isolasi covid -19 ditempat ini dikarenakan dipemukiman ini banyak sekali anak – anak yang bermain, takutnya nanti anak – anak dan warga ikut juga terpapar covid 19 ini.”

Bacaan Lainnya

“Hendaknya pemerintah desa kalau ingin menyiapkan rumah isolasi covid- 19 jangan terlalu dekat dengan rumah warga atau komplek perumahan.” tutur Dian kepada media, kamis (22/7/21).

Sementara itu Kepala dinas PMD Rusdi Hairullah saat di hubungi via WhatsApp menjelaskan “pada prinsipnya yang dimaksud rumah isolasi tidak harus rumah yang besar dan mewah, tetapi adalah ruangan yang memadai untuk penampungan apabila ada warga desa yang terpapar atau harus isolasi mandiri, sehingga dapat di tampung oleh Pemerintah Desa melalui team gugus tugas covid-19 desa dalam rangka membantu warga yang yang terpapar tersebut.”

“Ruang isolasi dimaksud bisa disewa dengan tidak terlalu mahal, syukur kalau ada ruangan yang layak dipergunakan dan tidak harus menyewa, sesuai kebutuhan desa seyogya nya wajib menyiapkan ruangan atau rumah isolasi tersebut.”

“Dalam anggaran covid 8 persen dari dana desa, tidak semua desa menganggarkan untuk sewa rumah isolasi desa ini, mengingat sesuai kebutuhan dan hasil musyawarah desa.”

“Walaupun tidak teranggarkan Pemerintah Desa tetap mengantisipasi dengan cara swadaya atau mandiri dari warga Desa,” terang Rusdi melalui via whatshap nya kepada media, kamis (22/7/21).

Ditempat terpisah, Edi Wansri selaku Kepala Desa Muara Lawai mengatakan “sebenarnya rumah isolasi itu ada tiga belas point yang harus memenuhi persyaratan yang kira- kira layak, disitu juga tidak ada harus persetujuan warga tapi rumah isolasi ini juga telah kita jelaskan, ini adalah persiapan jangan takut rumah isolasi ini akan terisi penuh oleh masyarakat yang berdiam disini selama empat belas hari.”

“Beda dengan tahun 2020 lalu, isolasi – isolasi masih saja berkeliaran, nah kalau mereka yang diisolasi mandiri di dalam rumah masih saja berkeliaran terpaksa kita bawa kerumah isolasi ini.” kata Kades Edi

Lebih lanjut Kades Edi mengatakan “rumah isolasi ini adalah persiapan dan disetiap desa harus ada rumah isolasi, persiapan kalau rumah sehat kabupaten penuh dan mereka ini tidak ada tempat isolasi mandiri, kan ini yang harus kita persiapkan.”

“Ruang isolasi ini cuma disiapkan paling banyak tiga orang, sampai sekarang masyarakat yang terpapar di desa Muara Lawai belum ada yang mau menempati rumah yang telah disiapkan itu, mereka ingin isolasi mandiri dirumah masing masing.” jelas kades Edi.

Ditambahkan kades Edi, rumah isolasi ini bukan ngontrak akan tetapi cuma saja kami membayar perawatan dan pemeliharaan dari pada rumah isolasi itu sendiri terhadap tuan rumah.” ucap kades Edi kepada media di ruang kerjanya.

Dari pantauan media, dilokasi rumah isolasi covid tersebut memang nampak kotor, kurang terawat karena banyak debu dilantai, kotoran – kotoran hewan seperti kambing dihalaman rumah, tempat tidur seperti ranjang belum ada, bahkan tempat pencuci tangan didepan rumah belum ada.”

(Suprayogi/tim)

Redaksi : Suprayogi





Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *