INDOSIBER.ID – Jalan Teduh, merupakan jalan bernilai historis bagi masyarakat Tanjung Enim tempo doeloe. Pasalnya di kawasan tesebut, setidaknya ada tiga tempat yang sangat dikenal sampai saat ini, yaitu Toko Potret Kemajuan, Penginapan Kita, dan empat rumah dinas PN.TABA yang bernilai sejarah karena pernah dihuni oleh tokoh-tokoh Tanjung Enim yang sukses di perantauan.
Salah satu tokoh sepuh Tanjung Enim di perantauan, Brigjen Bastian Umar menuturkan sekelumit kisah atas rumah bersejarah itu, dan sangat berharap agar dapat dilestarikan.
“Ya, ke empat rumah itu bernilai sejarah. Pertama, mulai dari sebelah kiri, rumahnya Kapten Tobing, Dirut Pertamina di Plaju yang pertama, yang turut memajuken Pertamina; Rumah kedua, tempatnya keluarga Basrief Arief, Jaksa Agung RI (2010 – 2014), dibesarkan dan mulai sekolah (SR dan SMP); Rumah ketiga oleh Koramil digunakan sebagai rumah tahanan Tapol G30-S/PKI (1965); dan Rumah yang paling pinggir, tempat tinggal keluarga Brigjen Mar (Purn) Bastian Umar, orang pertama di Tanjung Enim yang menjadi Perwira Tinggi di jajaran TNI.
Paguyuban Masyarakat Tanjung Enim (PMTE) harus ikut mengawasi, jangan sampai merusak empat rumah PN.TABA yang di jalan teduh itu. Kito usulken untuk dijadiken museum.,” ungkapnya sambil berharap.
Kondisinya dulu memang sangat teduh dengan adanya pohon-pohon besar yang rindang, yang menjadi salah satu tempat favorit di kawasan kota Tanjung Enim saat itu.
Kini, kondisinya sudah jauh berbeda, pohon-pohon besar yang rindang yang membuat membuat teduh kawasan tesebut sudah tinggal kenangan. Semua pohon-pohon besar dibabat habis, tanpa tersisa satupun pohon, juga tanpa peremajaan pohon.
Bahkan, kini emperan di sepanjang jalan Teduh, Pasar Bawah Tanjung Enim tersebut sudah dibongkar dengan dalih untuk kantong parkir kendaraan para pengunjung yang ingin berkunjung ke museum, atau ketempat perbelanjaan dijalan kolonel H. Burlian, Pasar Bawah Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumsel tersebut.
Terpantau awak media, para pemilik warung yang mengemper dirumah induk atau bangunan tempat usaha di sepanjang Jalan Teduh sudah dibongkar.
“Ya, kita para pemilik warung sudah mendapat surat dari PTBA, tapi surat tersebut sudah kami buang, dan isinya kami tidak ingat lagi, namun intinya pemberitahuan agar kita pindah, agar mengosongkan area sepanjang jalan Teduh ini.
Kita, pemilik warung hanya diberi uang untuk bongkar atau uang paku, dan besaran uang tersebut berbeda-beda. Ada yang menerima Rp 4 juta, ada juga Rp 5 juta, dan yang paling besar Rp 8 juta,” ungkap Butet dengan nada sedih.
Hal senada juga disampaikan seorang laki-laki yang tidak mau menyebutkan namanya. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena tanah ini memang bukan milik kami, disini hanya menumpang untuk mencari nafkah kebutuhan keluarga. Kami menempati tanah ini sudah lama, dan tentunya dengan diberikan uang sedemikan, rasanya kurang wajar. Namun, kami hanya pasrah, karena tidak bisa berbuat banyak,” ujarnya dengan raut muka yang muram.
Ketika awak media mencoba untuk menghubungi Tim Kowis PTBA, Budi Lesmono via WhatsAppnya, untuk menanyakan masalah Jalan Teduh yang digusur itu akan diperuntukan untuk apa, hanya menjawab dengan singkat. “untuk kantong parkir” kata Budi Lesmono.
Laporan : Eko M







