INDOSIBER.ID — PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) kembali menunjukkan komitmennya terhadap penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari PLTU Sumsel-8. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa pemasangan paving block berbahan dasar FABA di halaman SD 16 Tanjung Agung.
Kegiatan peresmian program tersebut dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Muara Enim, Bapak Dedi Arianto, bersama Anggota DPRD Kabupaten Muara Enim Bapak Yones Tober, yang merupakan anggota DPRD dari Daerah Pemilihan (Dapil) 5. Turut hadir jajaran Pemerintah Kabupaten Muara Enim melalui Dinas Lingkungan Hidup, unsur Tripika Kecamatan Tanjung Agung yang terdiri dari Camat, Kapolsek dan Danramil, serta Kepala Desa Tanjung Lalang selaku tuan rumah.
Dari HBAP, kegiatan tersebut dihadiri oleh Vice President Director (VPD), Direktur HRGA, serta sejumlah karyawan HBAP. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi wujud sinergi antara perusahaan, pemerintah daerah, unsur kewilayahan, dan masyarakat dalam mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih bertanggung jawab dan memberikan manfaat langsung bagi lingkungan sekitar.
Pemanfaatan FABA sebagai bahan dasar paving block merupakan salah satu bentuk penerapan ekonomi sirkular, yaitu mengubah material hasil samping proses pembangkitan listrik menjadi produk yang memiliki nilai guna dan manfaat bagi masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, FABA tidak hanya dipandang sebagai hasil samping kegiatan operasional pembangkit, tetapi juga sebagai material yang dapat dimanfaatkan secara produktif sesuai dengan ketentuan dan standar yang berlaku.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari perjalanan panjang HBAP dalam mengembangkan pemanfaatan FABA. Sejak 2020, HBAP secara konsisten membangun kolaborasi dan melakukan berbagai studi serta pembelajaran bersama pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, maupun pembangkit lain yang telah mengembangkan pemanfaatan FABA.
Berbagai kegiatan tersebut antara lain dilakukan melalui berbagi pengetahuan mengenai peluang pemanfaatan FABA, studi banding ke PLTU UPP Tarahan di Lampung pada 2022, kunjungan pembelajaran ke Ende, Nusa Tenggara Timur pada 2023, penyusunan profil pemanfaatan FABA bersama Pemerintah Kabupaten Muara Enim dan Universitas di Muara Enim, hingga studi banding ke PLTU Indramayu dan PLTU Suralaya pada 2024. Pada 2025, HBAP juga turut mendukung kajian bersama Pemerintah Kabupaten Muara Enim, BRIN, dan pihak PLTU mengenai pemanfaatan FABA sebagai bahan baku pupuk.
Rangkaian proses tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan FABA di HBAP dikembangkan secara bertahap, melalui proses pembelajaran, kajian, kolaborasi, dan implementasi. Pemasangan paving block berbahan dasar FABA di SD 16 Tanjung Agung menjadi salah satu bentuk nyata dari perjalanan tersebut, sekaligus langkah untuk menghadirkan manfaat langsung bagi fasilitas pendidikan dan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Dalam kesempatan tersebut, HBAP juga menegaskan bahwa keberhasilan program pemanfaatan FABA tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologi, tetapi juga oleh kolaborasi dan dukungan berbagai pemangku kepentingan. Sinergi dengan pemerintah daerah, masyarakat, lembaga penelitian, dunia pendidikan, serta pihak terkait lainnya menjadi bagian penting dalam memastikan pengembangan pemanfaatan FABA dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan.
Melalui program ini, HBAP berharap pemanfaatan FABA dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih luas, baik dalam mendukung pengelolaan lingkungan, menciptakan nilai tambah dari hasil samping pembangkitan, maupun meningkatkan kualitas infrastruktur dan kehidupan masyarakat sekitar.
“Mendukung pembangunan berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, dan ekonomi sirkular” menjadi semangat yang terus dibawa HBAP dalam mengembangkan berbagai inisiatif pemanfaatan FABA. Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen HBAP untuk memastikan bahwa keberadaan perusahaan tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah operasionalnya.







